Janji Marina

Sumber: https://www.pinterest.com

14 februari 2017
Mungkin hanyalah satu kebetulan,
Disatu gedung auditorium sebuah universitas. seorang laki-laki paruh baya duduk tenang dikursi pada barisan para undangan, lelaki itu bernama johan. Dia mendampingi putranya yang hari itu ikut diwisuda.
Ketenanganya menjadi terusik, saat lelaki disampingnya berdiri dan menggandeng tangan perempuan disebelahnya untuk naik kepanggung.Rupanya mereka orang tua salah satu mahasiswa yang berprestasi.
Tapi bukan itu...Johan berpikir keras, sepertinya dia mengenal perempuan itu, Marina ??, itu betul marina...ada tahi lalat dibawah bibirnya serta belahan kecil didagu .Seakan tak percaya, tapi itu betul Marina...semakin yakin saat pembawa acara menyebutkan nama orang tua mahasiswa Marina Citra.
Ada satu perasaan aneh,dadanya sedikit bedebar,tubuhnya mendadak berkeringat,pikirannya sudah tidak fokus dengang acara yang diikuti.Sampai lelaki dan perempuan itu kembali ketempat duduk disebelahnya Johan tak berani untuk menyapa apalagi untuk bertanya,walaupun saat hendak duduk kembali lelaki dan perempuan itu tersenyum padanya.
Ahh,sepertinya Marina tak mengenaliku. 'Johan membatin dalam hati'.
______

Ditempat parkir.
Ketika menunggu putranya yang sibuk dengan teman-temannya, sementara dia dibiarkan sendiri menunggu dimobil. Kembali Johan melihat Marina dan suami nya,yang dikerubuti tiga orang remaja, mereka sibuk berfoto-foto, beberapa kali Johan melihat laki-laki itu menggandeng dan memeluk Marina, mereka terlihat begitu bahagia.
Dari balik kaca mobil yang gelap tak henti matanya menatap pemandangan didepannya, berkali-kali Johan menarik nafas panjang.Sepertinya Marina tak banyak berubah, wajahnya tampak lebih muda dari umurnya, penampilannya begitu bersahaja sangat jauh berbeda dibanding shinta bahkan lidya mantan istrinya.
Aahh, Johan kembali menarik nafas panjang. 'Kenapa jadi ngelantur begini'.
Pikiran-pikiran liar menerawang ke masa lalu tak mampu ditepisnya, keringat dingin semakin membasahi tubuh dan bajunya, sementara belum ada tanda-tanda kemunculan putranya untuk pulang.
_____
Hari itu, akhir september 1989
Seorang lelaki muda duduk gelisah di kantin seberang kampus,matanya tak henti-henti menatap pintu gerbang. Sejurus kemudian mendadak dia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri seorang gadis manis yang rambutnya selalu dikuncir kuda dan berponi.
Gadis itu kaget melihat kedatangannya
'Ngapain kak Jo kemari? matanya berbinar penuh selidik
'Yaa mau ketemu kamu lah dek Rin...sekalian mengajakmu'. Johan tersenyum penuh arti.
'Maksudnya..Kak Jo mau mengajak kemana?,Marina semakin penasaran.
'Menemui ibuku, memperkenalkan dek Rin sebagai calon istriku'.
Marina terdiam, sambil memainkan ujung tas nya.Matanya yang berbinar berubah sayu.
'Aku belum bisa kak...'. Marina tertunduk
Johan terus menatapnya 'kenapa dek ?'
'Aku harus menepati janjiku dulu pada ayah ibuku kak, sampai aku wisuda'.
'Lantas gimana dek Rin ?',Johan jadi gelisah.
'Jika Kakak setuju, beri aku waktu setahun lagi'.
'Baiklah dek Rin,kakak akan bersabar menunggumu '.
Johan tersenyum, Marina melanjutkan kata-katanya
'Aku tunggu kakak disini menjemputku, untuk menemui calon ibu mertuaku itu janjiku'.
Mereka tertawa bersama, sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta saling merajut janji cinta.
_____

Sebulan kemudian, Johan harus menjalani tugas belajar yang didapat dari kantornya. Menjalani hubungan jarak jauh tak menghalangi keduanya, surat cinta dan kedatangan pak pos menjadi sesuatu yang luar biasa.Tapi itu hanya berlansung enam bulan, memasuki bulan kesembilan praktis Johan tak pernah lagi menunggu datangnya pak pos bahkan membuka surat-surat Marina pun tidak.
Sepertinya Marina sudah mulai dilupakan, sejak perkenalan dengan Lidya anak ibu kos yang begitu agresip. Semuanya hilang dan menguap begitu saja, Johan seakan tak mengingat lagi janjinya, bahkan dia terpaksa harus menikahi Lidya. Serta satu kenyataan pahit harus dihadapi, bertahun kemudian mereka harus berpisah karena perselingkuhan Johan.
Menikahi Shinta tak membuat Johan menjadi lebih baik, putra semata wayang nya tegas-tegas menolak shinta, bahkan menyebut shinta de poroter pada wanita yang jelas-jelas sebagai biang kehancuran rumah tangganya.
Melihat Marina lagi hari ini dengan aura kebahagiaan yang begitu kuat semakin membuat Johan merasa kerdil, tak ada keberanian sama sekali untuk menyapa dan sekedar menanyakan kabarnya, rasa bersalah datang tiba-tiba yang dulu sama sekali tak pernah dia hiraukan bahkan memikirkan perasaan Marina pun tidak.
_____

Bergegas, dipacu mobilnya menuju pulang.Putranya yang tertidur dibangku sebelah juga tak menghiraukanya.pikiran nya berkecamuk tentang surat-surat Marina yang ditujukan ke rumah ibunya.
Sesampai dirumah, Johan berlari kecil masuk rumah ibunya yang bersebelahan dengan rumahnya.Ingatannya tertuju pada sebuah kardus kecil yang disimpan ibu dilemari kamarnya,dan benar...kardus itu masih ada lengkap dengan isinya.
Perlahan, ditariknya amplop berwarna pink.Terlihat tulisan yang begitu dikenalnya puluhan tahun lalu, tangannya gemetar...

Dear Kak Jo
Maafkan jika aku terpaksa mengirimkan surat-suratku kealamat rumah ibumu, berbulan-bulan ini suratku tak pernah lagi berbalas.entah apa yang terjadi dengan dirimu.Aku hanya ingin menepati janjiku, menunggumu menjemputku untuk mengajakku bertemu ibumu,calon ibu mertuaku begitu katamu waktu itu. berbulan-bulan tak ada balasan dan selama tiga puluh hari setiap sore aku menantimu dibangku taman depan kampusku,mungkin harapanku terlalu tinggi,  berharap kau menjemputku dan mendampingi saat aku wisuda. Tapi ah sudahlah, berpuluh surat tak berbalas dan tiga puluh hari menunggu sudah cukup bagiku sebagai sebuah jawaban. Selamat berbahagia Kak Jo, ini adalah surat terakhirku dan buanglah jauh-jauh agar kelak tak menjadi ingatanmu.

Marina Citra
_____

'Kenapa kau buka kardus itu Johan?' Johan tersentak,Ibunya yang sudah sepuh berdiri dibelakangnya.
'Aku mencari berkas-berkasku bu',Johan gelagapan dan mengembalikan kotak itu ditempatnya semula.
Dengan gugup Johan menghindar dari tatapan mata Ibu yang masih awas, cepat-cepat dia melangkah keluar karena tak mau mendengar pertanyaan-pertanyaan Ibu.
'Kita tak berjodoh Marina....'.

_____
Selesai

Komentar

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Sensasi Cita Rasa Ikan Salai

Tak Mampu Berkata Baik, Diam Lebih Baik

Hanya Tentang Waktu