Helm Berwarna Pink

"sumber foto: Amazon.de
                                     
                         

Suasana malam ini terasa hening, titik-titik hujan masih tersisa satu-satu. rintik hujan ditingkahi suara kodok dibawah jendela, dari kejauhan  suara gonggongan anjing melolong. Terdengar suara ketukan pintu, dengan malas Nia bangkit dari tempat duduknya, menyibak tirai jendela untuk mengetahui siapa yang datang. Saat membuka pintu, belum sempat mempersilahkan masuk perempuan muda yang ternyata adalah menantu mbak Nur sahabat Nia langsung berkata...
'Tante...Ibu menyuruh saya mengambil helmnya yang tertinggal'.
Nia terkejut, mendadak terbangun dari tempat tidurnya, tubuhnya berkeringat dingin. Ternyata Nia bermimpi, diliriknya jam dinding masih jam 03.00. Dia ingat sesuatu...
'Helm itu...?'
'Koq rasanya mimpi itu nyata sekali...', Nia merinding, bukankah malam ini adalah malam ketiga meninggalnya Mbak Nur sahabatnya.  sepanjang subuh pagi itu Nia gelisah memikirkan mimpinya yang aneh.
Saat sarapan Nia menceritakan mimpinya pada Eland suaminya, Eland menanggapi biasa saja
'Ah cuma mimpi toh dinda, tak usah dipikirin..'
'Cuma bunga tidur...makanya balikin tuh helm'.

***

Mbak Nur adalah sahabat Nia, sebenarnya usia mereka terpaut cukup jauh, tapi mereka cocok satu sama lain dan sudah saling menganggap seperti saudara sendiri. Suami merekapun berteman baik karena bekerja dikantor yang sama, jika ada acara kantor suaminya Mbak Nur selalu menjemput Nia dengan motornya.
Suatu saat saat Mbak Nur mengantar Nia pulang, helm mbak Nur yang dipakai Nia lupa dilepas, satu jam kemudian Mbak Nur sms
'Helmnya ketinggalan Nia..., jangan sampai nggak dibalikin lo ya, balikin ya..jangan sampe kamu jual helm itu wqwqwq...'
Saling becanda sudah biasa diantara mereka, Nia menanggapi sms itu biasa saja dan janji untuk segera mengantarkan helmnya. Belum sempat mengembalikan helm, dua hari kemudian Nia dikabari suaminya kalau Mbak Nur masuk Rumah Sakit lagi. Dua bulan Mbak Nur tak sadarkan diri hingga akhirnya dia harus menyerah dengan penyakitnya, Mbak Nur pergi untuk selamanya.


***


Malam itu Nia dan Eland berencana hendak pergi pada peringatan tujuh hari meninggalnya Mbak Nur, sekalian mengembalikan helmnya, bingung Nia melihat lemari kaca digarasi tempat menyimpan helm pink itu sudah tidak ada ditempatnya.
'Abang yang pakai helm punya Mbak Nur ya...?'.
'Tidak Dinda'.
'Koq helmnya tak ada?'.
"Ada yang pinjam kali dinda? atau dinda lupa kali?'.
'Siapa yang pakai Abang...dirumah ini cuma kita berdua, nggak ada yang pinjam juga..'
'Lagian lemarinya masih terunci, Nih kuncinya saya pegang', Nia menunjukkan kunci lemari yang dipegangnya.
'Lho dinda..? koq aneh..'.
'Bang ..jangan-jangan mimpi itu', Haahh...'
Disaat yang sama terdengar suara petir bebarengan listrik mati, Nia yang penakut spontan melompat dari tempat berdirinya maksudnya mau memeluk suaminya, tapi apa hendak dikata Nia menabrak pintu dan tulang kering betisnya tepat mengenai pinggiran pintu...
'Aduuuhhhh...'

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Mampu Berkata Baik, Diam Lebih Baik

Hanya Tentang Waktu

Ini hidup