Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Asa

Menyibak tirai jendela Terlihat kuncup merekah Bulir-bulir sisa hujan semalam masih tersisa Dan sepagi ini matahari pun mulai menyapa Merekapun seolah berkata Selalu ada harapan disetiap asa Selalu ada kebahagiaan didalam kesedihan Selalu ada kemudahan mengiringi kesulitan selalu ada kebaikan diatas kebaikan Dan tetaplah tersenyum cinta Karena senyum mu menenangkan jiwa @@@@@@

Keramat

Entah sudah berapa banyak air susu yang dia berikan Entah sudah berapa banyak keringatnya yang tercurah Entah sudah berapa banyak air mata yang tak terbendung Cinta dan kasih sayang nya tak berbatas   Dia ikhlaskan permata hatinya bersanding denganmu Berharap agar selalu bahagia bersamamu Tapi... Ada apa denganmu ?   Kata-katamu tajam setajam sembilu Ucapmu menyengat berapi-api Seolah tak ada celah kebaikan dalam diri nya Benarkah begitu ?   Cobalah kau ambil cermin itu Lihatlah dirimu, tatap matamu Tanya nuranimu Adakah hatimu berkerak dan berdebu ?   Kau  memang tak lahir dari rahimnya Tapi dia sama derajatnya dengan ibumu Sudah dia berikan segalanya segalanya...apakah kau lupa itu?   Dia memang bukan manusia sempurna Sama seperti dirimu Tapi Sudah jelas fitrah yang tertulis selamanya 'dia' adalah milik 'nya' Tak ada sebutan bekas untuk 'dia' Dia adalah 'keramat' untuknya   Putihkan nuranimu Bersihkan kerak dan debu ...

Gula-gula Dan Meja Makan Kosong

Tatapan matamu penuh curiga Ucapan salam kau balas sekenanya Rasa tak suka jelas tersabda Lewat ucapmu menusuk dada Sepertinya kau jadi pelupa Banyak uluran yang kau terima Tapi semua sudah tak bermakna Pernah memelas merintih sedih Memohon diri untuk dikasihani Kini terasa semua berbeda Hukum alam sedang terjadi Senyum manis tetap terpatri Walau hati kecewa sekali Daku memang tengah tertatih Tapi tidak minta dikasihani Tak juga ingin kutagih Apa yang sudah aku beri Sadar diri Ternyata toples gula-gulaku habis tak ada isi Tak ada lagi yang bisa kubagi Meja makan ku kosong berdebu Sudah tak ada hidangan lagi Betapa sungguh ingin mengikhlaskan Walau esok sapa dan senyum hanyalah basa basi Karena sudah tergores catatan dihati Sungguh kau tiada arti lagi Tak lebih bagaikan bangkai kecoa Disudut kamar mandi Kau memang harus dimaklumi Maklum kau baru bisa bersepatu tinggi Maklum kau baru bisa bersepeda jengki Maap, kumasih punya sahabat sejati Yang sel...

Bayangan Iblis

Cermin besar itu berdiri tegak Terlihat samaran sebuah bayangan Sekilas satu rupa indah cantik menawan Bergerak gemulai dalam pantulan cahaya Terlihat begitu sempurna Dalam gerak rupa dan tutur kata Tapi...ahhh Tidak Ada seringai dan senyum sinis Tatapan dingin dan berkilat Yang terpantul dalam rasa yang tlah lama terpendam Sekuat tenaga bayangan dalam cermin itu mencoba Untuk tetap berdiri disebelah kanan Tapi dirinya tak sanggup Cengkraman iblis begitu kuat Meremas sisi hati sebelah kirinya Dan Cermin itu memantulkan bayangan Bayangan iblis yang sedang tertawa Memperlihatkan taring-taring Serta bibir nya yang bergincu merah Diapun berteriak Akupun bisa jadi Iblis !! Sama seperti dirimu !! Sedetik bayangan itu tersentak Bersama gemuruh suara halilintar Tubuhnya lemas dan letih Wajahnya tertunduk pilu Perlahan ditengadahkannya Wajah serta kedua tangannya Bibir kelu berucap sendu.. Tuhanku... Ajarkanlah kepadaku Bagaimana caranya ikhlas Dan.....

Pesan Singkat Untuk Anakku

Dan hari ini... Perjalanan panjang akan kau mulai Perjalanan yangsesungguhnya Hari-hari yang panjang telah kita lalui Dan kau terkadang ikut dalam rasa Yang menyesakkan dan mengharu biru Betapa bahagia tiada terkira Saat melihat senyum dan tawa serta celoteh tentang kebahagiaanmu Hari begitu cepat berlalu Jalan panjang terbentang untuk kau lalui Bukit dan gunung siap menghadangmu Tak usah kau ragu Teruslah kau melangkah Berlarilah mengejar matahari Melompatlah menggampai bintang Serta tetaplah berpijak dibumi Cinta Dia, diriku dan dirinya Akan selalu mengiringi setiap langkahmu Cinta putih yang tak akan pernah ternoda. ***** Event Cinta putih RTC

Tetaplah Setia Pada Kopi Dan Asap Rokokmu

Gambar
Dan layar itu sudah terbuka Pertanda pertunjukan dagelan telah dimulai Ambillah kursi sisa yang berserakan ditepi panggung Serta duduk manislah  bersama penonton lainnya. Tak usah banyak bersuara Karena gemanya lenyap ditelan tawa dan sorak- sorai ditengah pesta Jadilah penonton yang baik bersama segelas kopi dan kepulan asap rokokmu Tak usah merasa kalah Buanglah rasa sesal Kau hanya belum beruntung saja Setidaknya kau masih bisa berbangga Karena kau bukan pecundang Bukan penjilat Bukan pengemis Dan...bukan pemelas. Maka tetaplah kau setia Bersama segelas kopi dan asap rokokmu sampai waktunya pertunjukan usai Saat para pemainnya turun panggung berganti pemain berikutnya Dan Tetaplah kau setia bersama segelas kopi dan asap rokokmu Dan ingatlah...sesungguhnya Panggungmu ada disini... dihati...sanubari... Cinta ketulusan Nurani yang tak terpedaya Takada kepura-puraan Maka... Tetaplah kau setia Pada kopi dan asap rokokmu. __________ LLg 050...